Dalam bercerita, perlukah kita menggurui?

Kuterobos hujan dengan hati kesal. Tak ingin aku menunggu lagi. Hampir 2 jam aku berdiri menunggunya Rio di sini.

“Phia, besok aku jemput ya! Tunggu aku!” ujarmu sebelum mengakhiri penbicaraan kita di ponsel tadi malam.

Entah sudah berapa puluh kali aku diperlakukanmu begini.

“Benar-benar keterlaluan,” umpatku kesal.

Hujan deras membasahi sekujur tubuhku. Kuterus berjalan, sambil sekali-kali menendang kerikil-kerikil kecil di jalanan.

Demikian Aling (kweklina) memulai cerpennya, “Seandainya, Kamu Dengar Penjelasannku!”. (Cerita lengkapnya dapat disimak di sini.) Berikut ini ulasanku.

Aku melihat kelebihan Aling dalam bertutur adalah kedalaman maknanya. Begitu pula pada cerpen tersebut. Di situ tertanam makna-makna kehidupan yang mendalam. Silakan memetiknya.

Kelebihan seperti itu biasanya terdapat pada orang-orang yang romantis atau orang yang pernah terpuruk tapi kemudian bangkit kembali. (Sepertinya, Aling begitu pula, maaf kalau salah.)

Terkadang, kita yang seperti itu teramat bersemangat dalam berbagi makna kehidupan. Begitu besar semangat kita, sampai-sampai kita tak merasa bahwa kita cenderung menggurui. Padahal, bila para penyimak diberi keleluasaan yang lebih banyak untuk mencerna kata-kata kita, maka akan lebih efektiflah kata-kata kita.

Pada cerita di atas–hmmm… daripada diriku, jelas bahwa Aling lebih lihai dalam menulis cerpen; namun, perkenankanlah aku menyampaikan kritik, ya–aku menangkap kesan menggurui pada kata-kata seperti berikut ini:

– … umpatku kesal.
– … tanyanya dengan mimik muka sedih.
– Aku tahu, Rio adalah cowok baik.

Daripada menyampaikan kesimpulan seperti itu, menurutku lebih baik memberi kesempatan kepada para penyimak supaya mengambil kesimpulan sendiri. Caranya adalah dengan menyampaikan paparan yang lebih rinci sebagai pengganti kata-kata yang “menggurui” tersebut. Contohnya, daripada menuliskan “… umpatku kesal“, mungkin lebih baik begini:

… umpatku. (Dalam hati aku merutuk, “Huh!! Ingin rasanya kutonjok hidungnya!”)

Dari paparan seperti itu, insya’Allah para penyimak dapat mengambil kesimpulan sendiri bahwa si “aku” sedang kesal.

Sementara itu, kita perlu lebih jeli dalam menyampaikan paparan.

Contohnya, kalimat “Kuterus berjalan, sambil sekali-kali menendang kerikil-kerikil kecil di jalanan.” Menurutku, paparan tersebut kurang menunjukkan rasa kesal, terutama pada kata-kata “sekali-kali” dan sekadar “menendang”. Mungkin ekspresi rasa kesal itu akan lebih gamblang bila kita gunakan kata-kata seperti berikut ini:

Hujan deras membasahi rambut, tangan, dan sekujur tubuhku. Tapi kulangkahkan sepasang kakiku. Kanan dan kiri bergerak, setapak demi setapak. Setiap kerikil dan bebatuan yang menghalangi jalurku aku tendangi. Kakiku terus melangkah.

Demikian ulasanku. Semoga bermanfaat. (Untuk artikel terkait, lihat “Cara Menyulap Cerita Biasa Menjadi Kisah Dramatis“.)

Iklan

2 respons untuk ‘Dalam bercerita, perlukah kita menggurui?

  1. Tapi pak, tidak selalu kita harus menyerahkan kesimpulan kepada pembaca. Itu hanyalah sebuah pilihan, tapi dengan resiko pembaca bisa mengambil kesimpulan yang berbeda dengan yang ingin anda sampaikan dan bahkan bisa bingung jika dia tidak memahami maksud yang ingin disampaikan. Menjelaskan kepada pembaca mengenai keadaan emosi dari tokoh dalam cerita merupakan satu pilihan yang sama baiknya.

    Mengenai contoh yang diberikan di atas, “sekali-kali menendang” berbeda dengan “setiap kerikil … aku tendangi”. Dalam dunia imajinasi seorang penulis, kejadian-kejadian dalam cerita adalah sebuah kejadian nyata, sebuah fakta. Penggantian kata-kata bisa mengubah makna dan menjadikan cerita itu tidak sesuai lagi dengan fakta yang ada dalam imajinasi. Bila penulis berimajinasi bahwa sang tokoh tidak menendang semua kerikil yang menghalangi jalannya, melainkan hanya beberapa kerikil saja. Maka “setiap kerikil … aku tendangi” tidak sesuai dengan kejadian yang tergambar dalam imajinasi penulis.

    Setidaknya begitulah keyakinan yang saya anut dalam menulis. Saya juga masih harus belajar banyak soal menulis dan ini hanya sekedar berbagi pemikiran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s