Buat apa menulis bersama kalau bisa menulis sendiri?

Di negara maju, sudah sering saya jumpai kerjasama antarpenulis dalam menyusun buku. Misalnya, seri Chickep Soup for the Soul. Di Indonesia, saya masih jarang menjumpainya. Tanya kenapa!

Sulitkah bekerja sama menulis buku? Tidak. Media komunikasi kita sudah canggih.

Apakah kebanyakan penulis Indonesia adalah orang-orang egois yang tak mau berbagi keuntungan dengan sesama penulis? Semoga tidak.

Menulis sendiri lebih menguntungkan? Tidak selalu. Bahkan, seringkali menulis bersama malah lebih menguntungkan, baik secara material maupun immaterial.

Penulis yang berpikiran pendek akan menyangka bahwa menulis sendiri akan lebih menguntungkan. Royalti bisa dinikmati sendiri, tak perlu dibagikan dengan penulis lain.

Perhitungan semacam itu keliru! Dengan menulis bersama, kita dapat menghasilkan karya yang lebih berkualitas daripada tulisan sendiri. Inilah rahasia mengapa menulis bersama justru menghasilkan produk dan angka penjualan yang lebih banyak, sehingga pada akhirnya lebih menguntungkan.

Contoh: bila menulis sendiri, mungkin sebuah buku Anda yang seharga Rp 20.000 terjual 1.500 eksemplar. Dengan royalti 10%, Anda mendapat 10%x20.000×1.500 = Rp 3 juta. Namun dengan menulis bersama, Anda bisa menulis DUA buku dengan harga lebih tinggi (misalnya Rp 25.000) yang menghasilkan penjualan yang lebih banyak, katakanlah masing-masing 2.000 eksemplar. Meskipun misalnya royalti Anda hanya 4%, uang yang Anda peroleh = 2×4%x25.000×2.000 = Rp 4 juta. Jadi, menulis bersama pada akhirnya justru menghasilkan uang yang lebih banyak bagi Anda!

Lihatlah puluhan buku laris seri Chickep Soup for the Soul. Semuanya hasil menulis bersama. Saya yakin, bila penulisnya menulis sendiri-sendiri, kualitas buku dan keuntungan para penulisnya pasti takkan sebagus itu. Iya, ‘kan?

Menulis bersama itu bisa diibaratkan dengan bisnis waralaba (franchise). Meski tidak menggunakan nama sendiri, tidak memakai sistem bisnis sendiri, orang yang berbisnis dengan model waralaba ternyata seringkali lebih sukses daripada yang berbisnis dengan nama dan sistem sendiri.

Oleh karena itu, marilah kita adopsi kesuksesan bisnis waralaba di dunia kepenulisan kita! Dengan kata lain, ayolah kita bekerja sama menulis buku!

Iklan

5 respons untuk ‘Buat apa menulis bersama kalau bisa menulis sendiri?

  1. Kalau saya menulis .. bukan karena ingin royalti. Tapi karena ingin menyampaikan bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyanyang dalam bentuk tulisan. Sehingga janganlah bersedih. Rejeki bisa datang darimana saja.

    Terima kasih atas ajakan bapak kepada saya untuk menulis tandem. Dan itu adalah kehormatan buat saya. Saya anggap ini ibadah. Jika seandainya ada rejeki dari tulisan tersebut, itu semua semata2 karena kehendak-Nya.

    Jika pun tidak ada. Saya percaya .. ketika saya meninggal nanti, pasti Dia akan ‘mengganti-Nya’ disana. Untuk menebus dosa2 saya.

  2. Ha ha gitu ya … saya ‘iseng’ saja. Menulis sendiri OK, bersama OK. Nah, soal hitungan finansial selama ini belum kepikir tu. Saya agak hobi malah menfasilitasi membukukan karya orang, kalau lagi ada duit. Makasih inspirasinya. Selamat menulis.

  3. Situs pertemanan makin banyak bertebaran di internet. Dari sekian banyak nama, friendster, adalah satu nama yang paling populer. Sebab, dari situs ini, kita bisa banyak mendapat teman, dan bahkan mencari teman yang sudah lama tidak berhubungan dengan kita. Situs pertemanan, bagi sebagian orang memang telah menjadi semacam media yang sangat menyenangkan. Selain bertemu teman, berkenalan, hingga saling mengirimkan undangan pertemuan, menjadikan media ini bukan sebatas media maya belaka.

    Nah, bagi yang mempunyai hobi sama, situs pertemanan bisa jadi juga memberi kemudahan untuk saling bertukar informasi, Salah satu situs petemanan khusus satu hobi ini bisa ditemui di http://www.penulis-indonesia.com. Seperti namanya, situs pertemanan ini memang hendak mengumpulkan jaringan para penulis di seluruh Indonesia yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

    Menulis, belakangan memang menjadi sebuah fenomena yang makin berkembang di Indonesia. Makin banyak bermunculan penulis berbakat di tanah air yang tak hanya berbicara di tingkat lokal. Sebab, ada pula yang telah berhasil di ranah internasional. Hebatnya lagi, penulis di Indonesia itu sangat variatif usia pegiatnya, dari anak kecil hingga usia dewasa.

    Dengan situs pertemanan http://www.penulis-indonesia.com, para penulis ini hendak dikumpulkan dalam satu wadah pertemanan untuk saling dukung, saling dorong, saling bina, saling bantu, hingga suatu saat nanti, akan makin banyak penulis berkelas internasional di Indonesia. Tentunya, harapan ini bukan harapan kosong belaka. Sebab, hanya dengan kekuatan pertemanan dan relasi, kita bisa saling bantu menumbuhkembangkan dunia kepenulisan ini. Jadi, siap bergabung di http://www.penulis-indonesia.com?

  4. bener pak! saya sudah membuktikannya 😀
    menulis bersama, walaupun hanya berduet, terasa manfaatnya…walau diberi waktu singkat utk mengirim naskah, tp bisa teratasi dgn menulis barengan…salah satu keuntungannya ya itu…

    menulis buat saya ‘mencerahkan’…
    semoga bener-2 terwujud…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s