Penulis Profesional

mengapa dan bagaimana menjadi profesional di dunia kepenulisan

Archive for the ‘mengapa menulis’ Category

Inilah yang lebih menarik daripada seks

with one comment

Jika bapak berani menampilkan ini di halaman komentar, berarti merasa benar dan tidak salah. Tetapi jika komentar ini di hapus, saya sarankan buatlah blog hosting sendiri dengan para pengirim komentar yang terdaftar.

Terima kasih atas saranmu. Cuman, aku tak mengerti mengapa moderasi komentar itu kau kait-kaitkan dengan “merasa benar dan tidak salah”. Bagiku, kebenaran itu berdasarkan landasan-landasan yang kuat, bukan lantaran “merasa”.

Memang, pada beberapa hari belakangan ini aku mengaktifkan moderasi komentar, kecuali bagi sejumlah orang yang sudah aku “kenal”. Sebab, aku tak suka bila situs ini dikotori oleh komentar-komentar yang tak beradab. Selain itu, aku letih dan kekurangan waktu untuk melayani debat/pertanyaan yang jawabannya sudah pernah kusampaikan berulang-kali, bahkan termasuk di dalam isi postingan yang dikomentari itu! Aku merasa capek bila harus selalu menulis: “Apakah kau belum membaca isi artikel di atas?” dan sebagainya.

… saya lihat blog anda sudah keluar jalur pak, saya pikir… bapak mulai terlena dengan rating blog anda karena menuliskan hal-hal diluar thema bapak yang seharusnya.

Benarkah demikian? Kalau kau merasa harapanmu terhadap blog ini kurang terpenuhi oleh kami, okelah kami mengakuinya. Mudah-mudahan di masa mendatang, kami mampu memenuhi harapanmu. Aamiin.

Sepertinya kau menyangka bahwa tingginya rating blog shodiq.com ini adalah lantaran banyaknya tag “sex”, “porno”, dsb. Kalau kau menyangka begitu, aku dapat menangkis persangkaanmu dengan fakta sebagai berikut. Baca entri selengkapnya »

Written by M Shodiq Mustika

4 April 2009 at 19:40

Ditulis dalam mengapa menulis

Ditandai dengan , , ,

Surga Buku = Neraka Dunia?

without comments

Paradoks Negeri Para Nabi

Oleh M. Deden Ridwan, GM Hikmah, Mizan Publishing House

AKHIR Januari lalu, saya baru saja menghadiri Cairo International Book Fair (CBF). Pesta meriah ini digelar selama kurang-lebih dua minggu. Mulai 22 Januari-04 Februari 2008. Bertempat di lokasi khusus pameran, berupa lapangan seluas 10-an hektar, dengan 12 hall, di kawasan Nasr City, Cairo, Mesir. Di lapangan itulah para pengunjung dari penjuru dunia bisa menikmati stand-stand buku berjejer. Meskipun bentuk stand-standnya tampak sederhana. Alias tak mencerminkan kualitas seni yang tinggi. Namun justru dengan begitu nuansa klasiknya cukup menonjol.

Dalam beberapa kali pameran buku di Jakarta Convention Center (JCC), saya sering merasa capek berkeliling ke seluruh stand. Ternyata, setelah menghadiri CBF, pameran di JCC itu terasa amat kecil. Saking luasnya, saya pun tak berhasil mengunjungi semua stand tersebut secara detail. Karena memang memerlukan energi dan waktu yang cukup lumayan.

Menurut sebuah informasi, pameran ini adalah yang terbesar di dunia. Baca entri selengkapnya »

Written by M Shodiq Mustika

7 Maret 2008 at 01:55

Gerilya Penulis Pemberontak by Fahrudin Nasrulloh

with one comment

Setiap penulis berdiri genting di kecamuk proses kreatifnya. Karena ia menyadari telah terlempar ke dunia, dirayapi gamang, terhirup waktu, diterbangkan iman. Telanjur sudah ia berlaga di padang kurusetra yang tak habis-habis itu. Sementara manusia lain, yang gentar nerjang nan alpa atas segala, cuma jadi ternak-ternak Tuhan belaka.

Inilah gambaranku atas lanskap batin penulis pemberontak ini, Nurel Javissyarqi, yang gede nyali bikin penerbit sendiri, Pustaka Pujangga. Ia menerbitkan karya-karyanya meski awalnya stensilan dan dicetak terbatas: Baca entri selengkapnya »

Written by M Shodiq Mustika

20 Februari 2008 at 13:35

Pelajaran Mengarang by Seno Gumira Ajidarma

with one comment

Pelajaran mengarang sudah dimulai.

Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.

Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.

Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.

Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.

Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.

Baca entri selengkapnya »

Written by M Shodiq Mustika

4 Februari 2008 at 15:35

Buat apa menulis bersama kalau bisa menulis sendiri?

with 5 comments

Di negara maju, sudah sering saya jumpai kerjasama antarpenulis dalam menyusun buku. Misalnya, seri Chickep Soup for the Soul. Di Indonesia, saya masih jarang menjumpainya. Tanya kenapa!

Sulitkah bekerja sama menulis buku? Tidak. Media komunikasi kita sudah canggih.

Apakah kebanyakan penulis Indonesia adalah orang-orang egois yang tak mau berbagi keuntungan dengan sesama penulis? Semoga tidak.

Menulis sendiri lebih menguntungkan? Tidak selalu. Bahkan, seringkali menulis bersama malah lebih menguntungkan, baik secara material maupun immaterial.

Baca entri selengkapnya »

Written by M Shodiq Mustika

15 Januari 2008 at 04:49

Ditulis dalam kerja sama, mengapa menulis

Ditandai dengan , ,

Kebahagiaan Penulis Buku

with one comment

Di manakah letak kebahagiaan penulis buku? Apakah letaknya pada hasil penjualan buku yang memadai untuk kebutuhan hidup sekeluarga? Pada royalti? Pada ketenaran nama diri? Pada pujian dari pembaca?

Baca entri selengkapnya »

Written by M Shodiq Mustika

8 Januari 2008 at 06:18

Ditulis dalam memikat pembaca, mengapa menulis

Ditandai dengan , ,

Rekor di WordPress Yang Membuatku Takut

with 10 comments

Pekan ini, aku torehkan “rekor” (pribadi) baru di WordPress (03-01-2008 20:00 WIB). Empat artikelku masuk dalam daftar “the most popular [Indonesian] WordPress.com posts” pada detik yang sama. Sebelumnya, paling banter hanya ada tiga artikelku yang nongol bersamaan. Malah tak jarang, tak satu pun artikelku nongol di daftar tersebut. Tapi pada pertengahan pekan ini, empat artikelku masuk sekaligus pada waktu yang sama. Alhamdu lillaah ….

menulis-produktif-500x114.jpg

Mulanya, aku merasa senang. Empat artikelku itu masuk pada urutan 6, 30, 31, dan 36 pada saat ada “kecenderungan bahwa top post ato tulisan teratas di wordpress selalu yang bertema mesum.”

Baca entri selengkapnya »

Written by M Shodiq Mustika

5 Januari 2008 at 18:33

Ditulis dalam Sukses Menulis, mengapa menulis

Ditandai dengan , , ,