Penulis Profesional

mengapa dan bagaimana menjadi profesional di dunia kepenulisan

Menulis dengan pendekatan awamologi

with 3 comments

Assalamualaikum Mas. Diam-diam saya dah lama menyimak blog-blog Mas Shodiq. Soal naskah buku yang ditolak, jadi pengin nanya nih. Ceritanya aku coba nulis buku tentang kesuksesan menjalani hidup ini dengan pendekatan awam (awamologi). Istilah ini insya Allah asli gagasanku. Tapi, memang, isinya tetap merupakan kompilasi dari prinsip kebaikan dan kearifan yang sudah banyak diketahui orang. Sifatnya reflektif. Sayangnya, aku sendiri belum dapat dikatakan sukses. Paling tidak jika diukur secara materi dan keterkenalan (dalam hal ini sebagai penulis atau profesi lain yang berkaitan). Tentu saja bukunya diprediksi bakal kurang atau gak laku. Apalagi kalau harus bertarung dengan tema sejenis dari para trainer atau penulis yang dah beken. Apakah memang nulis refleksi spiritual tentang kesuksesan mesti sukses dan terkenal dulu Mas? Dan kalau belum bisa demikian, tulisan kita mestilah bersifat luar biasa, barulah orang mau baca dan beli? Mohon aku dibantu Mas. Sebagai info, aku baru belajar memublikasi perihal ini di awamologi.livejournal.com.

Demikian permohonan bantuan dari Bahtiar Baihaqi Heraudie al-Awami. Berikut ini tanggapanku.

Sebagai istilah dan pendekatan (sudut pandang), “awamologi” itu sudah sangat menarik alias layak jual. Kemenarikannya hampir setara dengan “kelirumologi”. Bahkah, bisa saja suatu saat nanti awamologi itu lebih populer daripada kelirumologi. Sebab, “awamologi” itu lebih acceptable. (Orang-orang lebih bisa menerima keadaan sebagai “orang awam” daripada “orang keliru”.)

Memang, pada saat ini, kelirumologi itu sudah matang, sedangkan awamologi baru tumbuh. Namun kalau ditangani dengan tepat, awamologi pun akan matang pada saatnya.

Kalau mau mengikuti (atau bahkan melampaui) jejak keberhasilan kelirumologi, saranku: perhatikanlah unsur “pemasaran” pada tulisan-tulisanmu. Terapkanlah prinsip-prinsip pemasaran yang efektif dalam kepenulisanmu. Misalnya: prinsip positioning.

Dalam positioning, kita mesti bersikap sesuai dengan posisi kita: sedang “sukses” (bukan sudah sukses), sedang “jatuh”, sedang “bangun”, dan lain-lain.

Bila kita sedang “bangun” (atau apalagi “jatuh”), kita memang harus membuat tulisan secara “luar biasa”, tetapi tidak harus yang luar biasa. Tahu bedanya?

Maksudku, “luar biasa” (dalam tanda petik) itu bukanlah berarti mesti mengandung gagasan hebat ala filsuf atau pun motivator andal. Sebenarnya, kunci utama kesuksesan para motivator itu bukanlah pada apa pesan mereka, melainkan pada bagaimana menyampaikannya. Isi pesan mereka pada umumnya “biasa”, tetapi cara menyampaikannya sungguh luar biasa, memenuhi prinsip-prinsip pemasaran yang efektif.

Prinsip-prinsip yang dimanfaatkan oleh para motivator andal itu cocok untuk kita terapkan untuk menuliskan gagasan-gagasan yang bersudut pandang awamologi. Sebab, orang-orang awam itu biasanya lebih menaruh perhatian pada bagaimana kita mengatakan daripada apa yang kita katakan.

Apa pun isi pesan kita, entah biasa entah luar biasa, orang-orang awam akan tertarik menyimaknya bila kita menyampaikannya secara “luar biasa”. Apakah yang “luar biasa” ini mesti dengan gaya puitis, filosofis, atau akademis? Tidak. Yang gaya penulisannya sangat puitis, filosofis, dan akademis itu justru terlalu luar biasa bagi orang-orang awam, bukan lagi luar biasa.

Yang luar biasa bagi orang-orang awam adalah yang memenuhi harapan mereka. Di sinilah prinsip-prinsip pemasaran yang efektif itu memainkan peran.

Belum jelas? Untuk memperjelas, kutampilkan gambaran penjelas. Begini.

Orang-orang awam itu sudah dan sedang menjalani kehidupan yang ruwet. Mereka tak mau lagi menemui “keruwetan” atau kerumitan dalam tulisan kita. Yang mereka harapkan adalah kelapangan atau pencerahan. Mereka biasanya sedang merasa jatuh. Karena itu, mereka tak mau lagi kita “jatuhkan”. Yang mereka harapkan adalah dibangunkan. Mereka sudah sering “dibangunkan” dengan keras atau dikecam oleh orang-orang di sekitar mereka. Karena itu, mereka tak mau lagi mendapat kritik keras dari kita. Yang mereka harapkan adalah masukan yang lemah-lembut. Dan lain-lain.

Karena bagi orang awam itu cara penyampaian pesan itu lebih penting, isi pesan kita bukan lagi masalah besar bagi kita. Kita bisa menulis apa saja yang kita pahami walau belum kita alami. Untuk menulis refleksi spiritual tentang kesuksesan pun kita tidak mesti “sukses” lebih dulu.

Contohnya, bukuku yang berjudul Bersalatlah. Buku refleksi spiritualku tentang kesuksesan ini justru kutulis ketika aku sedang terpuruk. Saat diterbitkan pun aku belum tergolong penulis yang “dikenal” orang. Bahkan, itulah buku pertamaku yang diterbitkan oleh penerbit terkemuka. (Buku-bukuku sebelumnya diterbitkan oleh penerbit-penerbit kecil saja.)

Demikian saranku kali ini. Eh, masih ada satu lagi. Mumpung tulisanmu di livejournal saat ini baru dua postingan, pindahlah ke yang lebih luar biasa: wordpress.com atau blogger.com (blogspot). Salah satu kekurangan pada livejournal sampai saat ini adalah ketidakmampuan untuk menampilkan gambar pada postingan kita. Padahal, bagi orang awam, gambar itu seringkali memikat. LiveJournal itu lebih pas bila kita menggunakannya untuk catatan harian atau bila khalayak yang kita bidik adalah kalangan tertentu saja. (Untuk perbandingan fasilitas penyedia layanan blog-blog terkemuka, lihat 2009 Blog Services Product Comparisons.)

Wallaahu a’lam.

Written by M Shodiq Mustika

26 November 2008 pada 07:52

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Wah, terima kasih banyak Mas. Aku gak nyangka akan secepat ini direspons. Mudah-mudahan nama Mas makin menjadi mustika (mewangi) sebagaimana yang dicita-citakan. Insya Allah saran Mas akan aku lakukan. Tapi, memang, dalam soal blog dll, aku ini benar-benar masih awam (tanpa tanda kutip). Jadi, semoga Mas tak bosan untuk terus memberi bantuan. Amin.
    Wassalamualaikum.

    bahri (bahtiar baihaqi)

    26 November 2008 at 13:07

  2. [...] memancing tanggapan inspiratif dari seorang blogger dan penulis produktif M. Shodiq Mustika (lihat: http://duniapenulis.wordpress.com/2008/11/26/menulis-dengan-pendekatan-awamologi/). Tanggapan Mas Shodiq ini pada gilirannya mampu memicu dan memacu saya pula untuk menuruti [...]

  3. [...] Mei 13, 2009 Menulis/Ngeblog dengan Pendekatan Awamologi Posted by Bahtiar Baihaqi under Menulis/Ngeglog-Awamologi | Tag: Awamologi, berbagi, curhat, kiat, menulis, ngeblog, penulisan, tips | No Comments  Tiba-tiba tebersit untuk mengkhususkan topik ini (menulis/ngeblog) dalam sebuah kategori melalui pendekatan awamologi. Ini seperti mengingatkanku kembali pada awal-awal kelahiran blog wordpress-(WP)-ku ini.  Waktu itu aku sempat curhat kepada Mas M. Shodiq Mustika tentang perihal ini dan lalu beliau memberi saran dan penyemangat bahwa pendekatan awamologi untuk penulisan (dan ngeblog tentu saja) itu menarik. [...]


Tinggalkan Balasan