Penulis Profesional

mengapa dan bagaimana menjadi profesional di dunia kepenulisan

Gelombang Dahsyat Buku Islam by Bambang Trim

tinggalkan komentar »

Berkeliling Sabtu-Ahad di arena IBF (Islamic Book Fair) [awal Maret 2008], sungguh memberi impresi tersendiri. Silaturahmi dengan teman-teman pekerja perbukuan, silaturahmi dengan sesama penulis dan editor, dan yang dahsyat silaturahmi dengan gagasan-gagasan baru luar biasa penerbit buku Islam.

Buku Islam tidak terpengaruh dengan Permendiknas–yang membuat ketar-ketir penerbit buku pelajaran. Buku Islam tidak terlalu khawatir dengan pendeknya jalur distribusi dan terbatasnya space toko buku. Bahkan, terkadang negatifnya buku Islam tidak peduli dengan hak cipta, tidak peduli dengan editing, dan tidak peduli dengan kemasan. Namun, kondisi negatif dalam satu tahun terakhir ini berangsur-angsur membaik.

Ini seperti sebuah berkah lain untuk negeri bernama Indonesia. Serombongan teman-teman dari Malaysia yang dimotori sahabat saya, Fauzul Na’im (dari PTS) datang, bahkan turut serta juga Ibu Ainoon, seorang penulis selebriti self-improvement di Malaysia. Mereka tertarik oleh magnet buku Islam Indonesia yang konon luar biasa hebat perkembangannya. Mimpi mereka bisa membawa pulang right karya-karya hebat anak bangsa, sembari buku-buku mereka pun bisa berterima di publik pembaca Indonesia.

Di sudut kecil Kenanga 6, berbarengan dengan stand gabungan IKAPI, sebuah penerbit baru menarik perhatian. Cicero Publishing tampil perdana dengan satu Quran (desainnya fungky sekali)dengan diferensiasi highlight ayat-ayat doa. Kemudian, ada empat buku lagi dengan desain mengikat mata dan judul-judul yang mengundang rasa ingin tahu.

Di beberapa tempat tampak penerbit yang tahun lalu belum ada dalam jagat perbukuan Indonesia, tampil tiba-tiba dengan sejumlah judul yang powerful. Di depan dan bagian dalam istora, masih ditempati penerbit-penerbit papan atas ataupun rising star dengan semangat yang tidak kalah dari penerbit-penerbit baru. Ada Mizan, Pena, Republika, GIP, dan banyak lagi.

Di beberapa titik ada penerbit-penerbit spesialis buku murah yang entah kapan masih bertahan dengan buku-buku mereka, seperti Irsyad Baitus Salam dan Jabal. Mereka obral buku dengan bandrol yang sanga masuk harga psikologis pembaca Indonesia: 10.000 dan 20.000. Lalu, apa buku yang menjadi bintang di IBF tahun ini?

Bintang buku-buku Islam masih merata jika tidak ingin menyebutkan “Ayat-Ayat Cinta” masih digjaya. Buku-buku tentang keajaiban segala shalat masih laku. Buku-buku yang mengharu biru hati wanita seperti Khadijah dan Aisyah juga tetap menjadi primadona. Buku-buku anak Islam juga bergerak cepat. Buku-buku karya ulama, ustad, dan kiai masih juga dicari. Dan tentu Quran adalah buku yang abadi dicari dan diminati yang sekarang tampil dengan segala diferensiasi, termasuk tajwid berwarna.

Saya [Bambang Trim] duduk di coffee shop berbincang sekitar 30 menit dengan Hendra Setiawan, pemilik Jabal. Setelah itu, bergegas ke Ruang Anggrek untuk acara bedah buku. Lantai atas yang dulu agak lengang, kini juga dipadati booth dan pengunjung. Lepas bedah buku “Magnet Muhammad saw” bersama dr. Tauhid Nur Azhar, saya pun bergegas menuju stan MQS. Buku-buku Aa Gym masih juga diminati meskipun masih tampak seorang ibu dengan raut tanpa ekspresi ketika suaminya minta persetujuan membeli buku Aa (he-he-he). Di depan stan Cicero saya bertemu Mas Chris dari DR dan berbincang sebentar tentang fenomena buku akhir-akhir ini. Selepas itu, bergegas makan siang ditemani Arul Khan, seorang penulis pesohor juga dan terhenti sebentar ketika seorang penulis bernama Pak Miswan meminta saya menunggu untuk sekadar menghadiahkan buku karyanya kepada saya. Wah, sungguh dunia yang dinamis dan menyenangkan.

Terbayang pada tahun 1997-2000 dulu ketika saya masih setia ikut menjaga booth di setiap pameran buku dari pukul 7 hingga 10 malam setiap hari. Dari sinilah saya merasa mengikuti gelombang dahsyat perbukuan nasional, menyimak langkah penerbit dari masa ke masa, dan bersilaturahmi dengan banyak orang yang membawa antusias.

Semoga gambaran cerah ini adalah refleksi masa depan bangsa kita yang makin kokoh dengan antusiasme untuk iqra — menghimpun ilmu dari manapun. Terima kasih.

——–

Tulisan di atas merupakan kutipan dari milis editorindonesiaforum

Written by M Shodiq Mustika

9 Maret 2008 pada 05:00

Ditulis dalam kerja sama, penerbitan

Ditandai dengan , , ,

Tinggalkan Balasan