Surga Buku = Neraka Dunia?
Paradoks Negeri Para Nabi
Oleh M. Deden Ridwan, GM Hikmah, Mizan Publishing House
AKHIR Januari lalu, saya baru saja menghadiri Cairo International Book Fair (CBF). Pesta meriah ini digelar selama kurang-lebih dua minggu. Mulai 22 Januari-04 Februari 2008. Bertempat di lokasi khusus pameran, berupa lapangan seluas 10-an hektar, dengan 12 hall, di kawasan Nasr City, Cairo, Mesir. Di lapangan itulah para pengunjung dari penjuru dunia bisa menikmati stand-stand buku berjejer. Meskipun bentuk stand-standnya tampak sederhana. Alias tak mencerminkan kualitas seni yang tinggi. Namun justru dengan begitu nuansa klasiknya cukup menonjol.
Dalam beberapa kali pameran buku di Jakarta Convention Center (JCC), saya sering merasa capek berkeliling ke seluruh stand. Ternyata, setelah menghadiri CBF, pameran di JCC itu terasa amat kecil. Saking luasnya, saya pun tak berhasil mengunjungi semua stand tersebut secara detail. Karena memang memerlukan energi dan waktu yang cukup lumayan.
Menurut sebuah informasi, pameran ini adalah yang terbesar di dunia. Terutama untuk kategori buku-buku agama (Islam). Dan, hal ini rutin dilaksanakan setiap tahun. Dalam pameran tahun ini konon lebih dari 6 juta buah buku ikut dipamerkan. Diramaikan oleh kurang-lebih 250 penerbit, mewakili pelbagai negara. Kebanyakan memang buku-buku Islam-berbahasa Arab dengan tema atau genre yang sangat beragam. Kendati buku-buku umum pun tampak memadati rak-rak pameran. Hanya saja di pameran tahun ini, saya lihat, tak ada sebuah buku yang benar-benar fenomenal. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya di mana, misalnya, sosok Dr. Muhammad ‘Aidh Al-Qarni, pengarang La Tahzan, menjadi ikon pameran.
Di arena pameran ini, segala macam buku agama, dari pemikiran kiri hingga yang bercorak kanan, bisa ditemukan. Dari berbagai disiplin ilmu agama maupun ilmu umum. Mulai fiqih, ushul fiqih, ushuluddin (teologi), filsafat, hadis, tafsir, siyasyah (politik), sejarah Islam, dakwah hingga buku-buku doa dan tuntunan ibadah praktis pun, tersedia. Sedangkan dari disiplin ilmu-ilmu umum terdisplay buku-buku sastra, linguistik, self-help, bisnis, new age, ekonomi, manajemen, motivasi, pengembangan diri, hingga psikologi.
Bahkan, penerbit-penerbit Arab terkemuka—semisal Darul Fikr, Darul Maarif, Darus Shourouq, Darus Salam, Darul Wafa, International Islamic Publishing House, The American University of Cairo Press, Maktabah Ubeikan, Maktabah Al-Jarir, dan Maktabah Attaufiqiyyah—memiliki lebih dari satu stand. Penerbit-penerbit inilah yang kerap menjadi simbol dinamika perkembangan ilmu-ilmu keislaman di dunia Arab, khususnya Mesir. Selain itu, tampak juga stand-stand yang mewakili negara-negara Barat, seperti Perancis, Spanyol, Jerman, Belanda, dan Italia. Tetapi, walaupun pesta buku ini berkaliber internasional, saya melihat aroma Timur Tengahnya (lebih tepat mungkin aroma Mesir-nya) masih terasa dominan.
Banyak di antara masyarakat, terutama mahasiawa, mengandalkan pameran sebagai arena memperbanyak ‘harta’-nya. “Saya suka beli buku-buku yang dijual sembunyi-sembunyi”, ungkap seorang pengunjung penuh misteri. Memang, setiap tahun sensor pemerintah Mesir terhadap buku-buku calon penghuni pameran ini lumayan ketat. Konon, katanya, jika tak ada sensor, maka jumlah buku akan bertambah banyak hingga 130 persen dari yang ada.
Antusiasme pengunjung, terutama masyarakat Mesir, terhadap pameran ini luar biasa. Bayangkan, setiap hari orang-orang rela berjubel antrian amat panjang untuk beli tiket masuk. Tak ada sehari pun yang tampak sepi. Mereka biasanya datang ke pameran rombongan: bawa istri, anak, kerabat dekat, dan kolega kerja. Ketika sore menjelang magrib—biasanya saat saya duduk sejenak istirahat di taman sambil menyantap makanan ringan khas Mesir dan menunggu giliran shalat—mereka kerap meninggalkan lokasi pameran dengan menggondol masing-masing kantong plastik dan tas besar serta troli berisikan buku. Begitulah setiap hari. Menyelami lautan buku di Cairo sungguh sebuah pandangan langka dan menakjubkan. Tak pelak lagi, Cairo adalah surga buku dan surga ilmu sekaligus.
Mengapa masyarakat Mesir begitu jatuh cinta pada buku, sehingga mau tidak mau, dunia perbukuan mulai berkiblat kepadanya? Rupanya kecintaan tersebut punya akar historis yang kuat. Dinamika kehidupan masyarakat Mesir hampir tak bisa dipisahkan dari tiga entitas: Islam, buku dan ulama. Sebagai negeri para nabi dan ulama, Mesir secara antropologis kerap dikategorikan sebagai—meminjam istilah Robert Redfield—“tradisi besar” (great tradition). Yaitu sebuah negeri “pusat” yang punya kaitan geneaologis intelektual terhadap lahir dan berkembangnya the body of knowledge ilmu-ilmu keislaman.
Karena itu, dengan mengikuti perspektif Redfield tersebut, Mesir kerap dikategorikan sebagai salah satu negeri pusat peradaban Islam. Dan, buku adalah bentuk aktualisasi paling nyata dari tradisi besar tersebut. Pun menjadi semacam simbol identitas masyarakat Mesir. Ketertarikannya pada buku otomatis merupakan wujud kristalisasi dari rasa keberislaman yang dalam dan bentuk pengkhidmatan yang tinggi serta penuh cinta kepada sosok ulama; pun ilmu pengetahuan. Bagi mereka, buku mungkin menjadi semacam makanan bergizi yang menyehatkan secara intelektual dan spiritual.
Selanjutnya, spirit buku sebagai simpul tradisi besar tampak semakin mengkristal karena Mesir juga punya universitas Al-Azhar. Sebuah universitas tertua yang acap disebut sebagai ‘Harvard-nya pusat studi-studi islam’; juga tempat lahirnya para penulis besar. Lewat universitas inilah tradisi intelektual Islam menancapkan pengaruhnya sampai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Salah satu pengaruh fundamental dari tradisi intelektual tersebut adalah pudarnya budaya lisan dan munculnya budaya tulis-menulis serta tradisi berbeda pendapat. Meskipun budaya tulis-menulis yang lahir dari pusat Al-Azhar ini pada awalnya sering dikritik bersifat normatif, kurang eksploratif, dan miskin metodologi.
Belakangan, arus perbukuan di Mesir sedang mengalami perubahan dahsyat. “Jika Anda ingin mengetahui apa yang berlangsung di sebuah zaman, cari tahulah tentang apa yang terjadi dengan para penulisnya. Para penulis, the town-criers, adalah barometer zaman“, ujar Ben Okri, penulis Afrika. Para penulis Mesir benar-benar sedang menatap zaman perubahan. Inovasi-inovasi baru pemahaman keagamaan muncul dalam segala bidang disiplin ilmu. Islam tidak semata dipahami sebagai sebuah sistem keyakinan, melainkan pula sebagai disiplin ilmu.
Aspek-aspek keagamaan dikaji secara ilmiah dengan pendekatan ilmu-ilmu modern. Bahkan, tak jarang dari para penulis besar Mesir yang umumnya alumni Al-Azhar, kini mengadopsi sistem metodologi ilmu pengetahuan Barat untuk menjelaskan aspek-aspek keislaman. Dr. Zaghlul An-Najar tentang Tafsir Al-Ayat Al-Kauniyah-nya dan Dr. M. Abd. Hamid Asy-Syarqawi tentag Al-Ka’bah Al-Masyrifah (Ru’yah Ilmiyyah), adalah contoh kecil yang fenomenal. Anggapan-anggapan “miring”, bahwa tulisan para alumni Al-Azhar “kering” dan “miskin metodologi”, mulai runtuh. Buku-buku Islam tiba-tiba menjadi ikon perubahan. Di sini, buku tidak lagi benda yang remeh, jinak, dan tidak berdaya, melainkan sesuatu yang “hidup”.
Dari perkembangan itulah kini Mesir merupakan salah satu pusat perkembangan buku-buku Islam yang memilik pengaruh amat besar di Timur tengah. Tidak heran pula bila pesta buku di Mesir kali ini menjadi tempat yang selalu diburu oleh para praktisi dunia penerbitan buku-buku Islam di Indonesia. Setiap tahun para pelaku bisnis buku-buku Islam dari negeri nusantara mengirim utusannya ke Cairo. Bahkan, dari tahun ke tahun, pesertanya terus bertambah. Selama di Cairo, mereka memburu buku-buku, copy rights, dan bahkan menjalin hubungan secara personal dengan para penulis terkemuka. Barangkali, inilah kiblat baru dunia perbukuan yang mulai dibidik secara serius oleh para praktisi penerbitan tanah air.
Namun demikian, di tengah gelombang perubahan besar dan apreasiasi dunia perbukuan kepada Mesir begitu kuat, justru muncul sebuah paradoks. Tengoklah lingkungan di sekitar kota-kota Mesir. Anda akan menemukan pandangan kumuh yang tidak enak dilihat dan dirasa. Jalan-jalan sangat kotor. Toilet-toilet bau “amis” luar biasa. Sampah berantakan. Tembok-tembok di sekitar kampus Al-Azhar tercium aroma bau kencing. Lalu lintas di jalan raya semrawut, lebih parah dari negeri kita. Pun produktivitas kerja rendah; masuk kerja pukul 11.00, pukul 14.00 sudah pulang. Bahkan, bila anda berkunjung ke agak pinggiran lagi dari kota Cairo, aroma pun akan terasa lebih tidak sedap lagi. Menyedihkan.
Tampaknya, dari fenomena tersebut bisa dilihat, pengaruh nilai-nilai Islam yang tersimpul dalam buku-buku belum berdampak pada realitas sosial. Islam baru sebatas teks yang hidup, tapi belum menjadi sistem nilai yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Islam baru menjadi hiasan indah, belum menjadi way of life. Islam masih bergema dan berhenti di kampus, di lorong-lorong masjid, di rak-rak perpustakaan, di toko-toko buku, dan tentu saja di pameran buku. Padahal tema-tema buku yang membahas tanggungjawab sosial dan etos seorang muslim bertebaran. Tapi miskin aplikasi. Dan, problem mentalitas memang menjadi masalah krusial dunia Islam. Inilah paradoks negeri para nabi.
Dari paradoks itulah, saya kira, kini Mesir membutuhkan evolusi peradaban radikal. Pusat-pusat kajian Islam perlu segera berbenah. Para penulis Mesir sudah saatnya mengkaji Islam tidak hanya secara normatif. Islam juga perlu dikaji secara sosiologis-antropologis dengan kehidupan sehari-hari sebagai ilustrasi. Artinya, yang dikaji dan diikat dalam sebuah buku, tidak lagi hanya Islam yang ada dalam teks-teks kitab suci beserta artepak-artepaknya, melainkan pula lebih fokus: living Islam in local context. Islam yang hidup dalam kehidupan nyata sehari-hari. Islam aktual, bukan Islam normatif.
Dengan cara itu, rasa keberislaman diharapkan akan lebih teruji lagi secara empiris. Islam menjadi membumi dalam spirit hidup bersih, ramah lingkungan, tidak buang sampah sembarangan, lalu lintas tertib, produktivitas kerja tinggi; pun kencing di toilet. Ini berarti Islam menjadi sebuah nilai praktis. Karena Islam bukanlah sebagai “ilmu” semata. Islam adalah cara atau jalan hidup.
Kita tunggu gelombang baru perubahan di Mesir. Bagaimanapun, suka tidak suka, negeri para nabi tersebut adalah cermin.
