jadi bestseller walau pernah ditolak banyak penerbit
Berita ini saya tujukan kepada semua penulis buku, terutama yang bukunya belum jadi bestseller dan naskahnya sering ditolak oleh penerbit. Kebetulan, tadi sore saya berkunjung ke toko buku Gramedia, Solo. Di situ, alhamdulillah, dua buku terbaru saya terpajang di bagian bestseller.

Mendapati buku pertama, yaitu Istikharah Cinta: Cara cerdas mendapatkan jodoh ideal (Jakarta: Qultum Media, Desember 2007), di bagian bestseller itu, saya tidak terlalu terkejut. Sebab, ketika naskahnya belum selesai pun, naskah tersebut sudah “diperebutkan” (ditawar) oleh beberapa penerbit. Apalagi, tidak seperti buku-buku saya lainnya pada umumnya, buku tersebut kemudian langsung dicetak 5000 eksemplar pada cetakan pertama.
Buku kedualah yang membuat saya terkejut. Tak saya sangka, buku Raihlah Surgamu: Renungan tentang cinta dan kehidupan (Yogyakarta: Qudsi Media, November 2007) tergolong bestseller juga. Padahal, sebelum akhirnya terbit, naskah buku tersebut pernah ditolak oleh tujuh penerbit. Sampai dua tahun berlalu, barulah ada penerbit yang bersedia menerbitkan naskah buku tersebut. Ternyata malah bestseller!
Jadi, kalau naskah ditolak penerbit, tak usah putus asa. Cari terus penerbit lain (seraya melakukan revisi seperlunya) sampai ada yang mau menerbitkan! Siapa tahu, akhirnya malah jadi bestseller seperti pada kasus di atas.
(Selain itu, bila belum bestseller di Indonesia, jangan putus asa pula! Siapa tahu, malah berjaya di luar negeri. Buktinya, satu buku saya, yaitu Salat SMART, telah jadi bestseller di Malaysia walau di Indonesia belum demikian.)

assalamualaikum
bang pnggilannya syapa ?? pnggil abang shodiq aj y
emang btul bang buku abang yang raihlah surgamu bgus bget ga heran klo jd best seller tp apa btul buku tu d tolak ama pnerbit ?? klo gt q ampir ga pcy
o y bang bri resep jtu dong gmn cr ngirim ato nerbitin buku??
afwan
wassalamualaikum
Harris
7 Maret 2008 at 13:25
wa’alaykum salam bang Harris
makasih atas pujian dan pertanyaannya
1) cara ngirim naskah tergantung penerbitnya; ada yang bisa via e-mail, ada yg hrs berbentuk print-out
selama ini, saya sendiri memilih penerbit yg bersedia terima naskah via email
2) ya, alasan ditolaknya naskah tsb oleh 7 penerbit itu seragam: “tidak sesuai selera pasar”
ketika buku ttg keajaiban salat, buku praktis (how to), dan novel islami sedang membanjiri pasaran, saya malah menyodorkan naskah renungan
M Shodiq Mustika
8 Maret 2008 at 04:35
Assalamualaikum,
Bener Mas.. saya juga nulis naskah buku dan komik lumayan sering ditolak tetapi alhamdulillah saat ini mulai ada yang diterbitkan. Sekarang saya mencoba lebih produktif dan pantang menyerah mencari penerbit yang bersedia menerbitkan karya saya.
Allah pasti Membukakan jalan bagi ummta-Nya yang pantang menyerah… Semoga barokah untuk semuanya.
Wassalamualaikum
arief dermawan
25 Maret 2008 at 20:48
Ada kabar apa lagi pak dari buku ‘kita’?
berapa buku yang sudah terjual? hihi…penasaran…
Donny Reza
31 Maret 2008 at 16:57
Dik Donny, belum ada laporan penjualan; biasanya setelah enam bulan
M Shodiq Mustika
2 April 2008 at 12:05
baik
yadi
4 Juni 2008 at 22:58
[...] ini, aku menempatkan prioritas kerja pada penyusunan naskah-naskah buku yang menurutku berpeluang best-seller seperti buku Istikharah Cinta. Aku berpikir keras, tema (dan topik-topik) apa lagi yang akan [...]
Sulitnya ikhlas berkarya « Manajemen Amal
6 Agustus 2008 at 05:58
Assalamualaikum Mas. Diam-diam saya dah lama menyimak blog-blog Mas Shodiq. Soal naskah buku yang ditolak, jadi pengin nanya nih. Ceritanya aku coba nulis buku tentang kesuksesan menjalani hidup ini dengan pendekatan awam (awamologi). Istilah ini insya Allah asli gagasanku. Tapi, memang, isinya tetap merupakan kompilasi dari prinsip kebaikan dan kearifan yang sudah banyak diketahui orang. Sifatnya reflektif. Sayangnya, aku sendiri belum dapat dikatakan sukses. Paling tidak jika diukur secara materi dan keterkenalan (dalam hal ini sebagai penulis atau profesi lain yang berkaitan). Tentu saja bukunya diprediksi bakal kurang atau gak laku. Apalagi kalau harus bertarung dengan tema sejenis dari para trainer atau penulis yang dah beken. Apakah memang nulis refleksi spiritual tentang kesuksesan mesti sukses dan terkenal dulu Mas? Dan kalau belum bisa demikian, tulisan kita mestilah bersifat luar biasa, barulah orang mau baca dan beli? Mohon aku dibantu Mas. Sebagai info, aku baru belajar memublikasi perihal ini di //awamologi.livejournal.com/.
bahri
26 November 2008 at 04:40
[...] Assalamualaikum Mas. Diam-diam saya dah lama menyimak blog-blog Mas Shodiq. Soal naskah buku yang ditolak, jadi pengin nanya nih. Ceritanya aku coba nulis buku tentang kesuksesan menjalani hidup ini dengan [...]
Menulis dengan pendekatan awamologi « Dunia Penulis
26 November 2008 at 07:52
Arogansi penerbit Grafindo
Suatu hari saya dikontak oleh editor penerbit grafindo. Mereka mengatakan tertarik pada naskah saya dan berniat untuk menerbitkannya. Sebelumnya saya telah mengirim naskah saya ke beberapa penerbitan buku. Kemudian dalam jangka waktu 2 bulan, karya saya direspon oleh 5 penerbit, termasuk grafindo media pratama yang berkantor di kawasan industri pulogadung Jakarta timur. Saya mempekerjakan beberapa orang dalam satu team untuk membantu saya dalam mengerjakan project karya pribadi tersebut. akhirnya saya memutuskan untuk memilih penerbit grafindo sebagai mitra kerjasama. Sedangkan penerbit yang lain saya tolak tawarannya dengan halus lewat email. Dan saya menyatakan untuk menerbitkannya ke grafindo media pratama. Saya pun mengajukan jual putus karya sebesar nominal yang telah disepakati, demi menutup biaya produksi akhirnya mereka setuju. Setelah menjalani prosedur tehnis yang ditetapkan grafindo, saya mencoba kooperatif termasuk menunaikan segala kewajiban saya sebagai penulis dengan pihak grafindo, dalam bentuk presentasi konsep naskah, presentasi konten buku, prersentasi dummy cetak, termasuk memberikan softcopy naskah asli dan konten yang siap cetak ke manajer editor dan team editornya. Bahkan pihak grafindo ikut mengedit kontennya. Mereka mengatakan akan mencetak naskah saya kedalam bentuk buku pada bulan desember 2008. kemudian mereka memberikan kepada saya draft /contoh surat perjanjian penerbitan disertai dengan pasal-pasal antar kedua belah pihak perihal perihal hak dan kewajiban termasuk kompensasi untuk penulis. Setelah melewati fase presentasi berkali-kali yang cukup menyita waktu dan tenaga, selesailah sudah kewajiban saya sebagai penulis menyerahkan semua konten asli naskah ke pihak grafindo.Mereka menjanjikan, akan memberikan surat perjanjian terbit dan akan membayar karya saya, setelah proses editing selesai Namun anehnya, setelah proses editing selesai, pihak grafindo tidak memberikan kepada saya surat perjanjian terbit yang asli dan mereka janjikan sebelumnya Ketika saya konfirmasi berkali-kali jawabnya, belum ditandatangani atasan yang bersangkutan. orang manajemen keuangan dan operasional. Saya lelah dan jengkel mendapat jawaban yang serupa dengan alasan yang sama hingga berbulan-bulan. Padahal naskah saya sudah disetujui untuk diterbitkan oleh manager editor, bahkan sudah selesai diedit oleh team editor dan layout. Saya tidak habis pikir, kenapa grafindo tidak transparan dan tidak profesioanal dalam menangani hak penulis? Saya merasa dibohongi. Padahal penulis merupakan asset mereka dalam dunia bisnis penerbitan.. selalu tidak jelas dan tidak jelas! Saya merasa sangat kecewa sekali terhadap grafindo karena saya sudah menolak tawaran penerbit lain, demi grafindo! Ditambah lagi dengan ketidakjelasan kompensasi pembayaran beli putus karya yang merupakan hak penulis, mereka abaikan seenaknya! Akhirnya naskah karya saya tarik meskipun saya menderita kerugian secara moril dan materil. Terlebih saya harus membayar team yang telah membantu saya dalam pengerjaan buku tersebut.
Saya harap semoga grafindo introspeksi diri dan jangan arogan. Penulis punya hak, karena penulis juga manusia! Butuh makan dan minum untuk membuat karya. Untuk itu janganlah sewenang-wenang terhadap penulis!
Jangan bikin malu dunia penerbitan….
Ary Vrhaz
Penulis & illustrator koran seputar indonesia ( SINDO )
rockerpemalu@yahoo.com
Korban penerbit
14 Desember 2008 at 08:38
berkata-kata sangat mudah, tapi menulis bukan main susah! koq gitu ya???
Rindra Febrian
26 Februari 2009 at 12:10
numpang baca……..
tri
5 Mei 2009 at 13:12
2 judul buku langsung kirim ke penerbit. tak ada yang menolak. langsung jadi dan alhamdulilah terbit. satu di bandung satu di jakarta.
Di Bandung sampai sekarang saya tak dapat berita apa-apa. saya ernah berkunjung ke kantor sekaligus rumah pemilik penerbitan yang begitu megah. sayang saya tidak ketemu dengan pimpinan jadi saya pulang dengan tangan hampa. Uang pangkal yang dijanjikan saat pertama kali cetak entah mampir di mana. dan uang sisanya akan dibayar setelah habis terjual, mungkin buku saya tidak laku.. tapi saya cek di gramedia dan gunung agung pernah ada dan konon kehabisan stok. Saya kecewa. Tapi kekecawaan itu hilang ketika teringat, justru saya diakui sebagai penulis buku karena penerbit tersebut. bahkan kehadiran buku kedua saya juga.. sepertinya tak lepa dari pengalaman menulis buku pertama.
Jadi… menulis itu menyenangkan. Dan butuh perjuangan termasuk berjuang memburu hak atas jerih payah menulis kita.
dani
18 Oktober 2009 at 20:00
Rekan penulis yang saya cintai,
Menarik membaca komentar-komentar Anda semua.Memang demikianlah dunia industri buku, tak lepas dari hitungan untung dan rugi.Bagi penerbit, memutuskan untuk menerbitkan naskah rekan-rekan ibarat mengadu nasib.Penerbit tentu saja mempertimbangkan matang-matang tentang kelayakan naskah yang ditawarkan, menjual atau tidak. Setidaknya, saya ingin sharing beberapa pertimbangan yang biasa dilakukan penerbit sebagai bahan penilaian.
1.Tema yang dibahas. Termasuk tren,never lasting, atau tidak kedua-duanya.
2.Penulis.Apakah enulis merupakan publik figur yang terkenal baik di masyarakat?Ahli di bidangnya?Atau memiliki teman yang public figur sehingga bisa diminta endoorsment atau pengantar darinya.Selain itu, apakah penulis memiliki jaringan yang luas?
3.Target pasar.Apakah naskah umum,segmented,anak-anak,remaja,dewasa,atau…lainnya.Hal ini akan berpengaruh pua terhadap penentuan harga dan spesifikasi teknis, misalnya gaya penuturan serta ayout isi dan cover.
Jadi, ketika menawarkan sebuah naskah kepada penerbit, berikan gambaran ketiga hal tersebut.Ini penting untuk membantu penerbit memberikan penialaian.Sebab, bisa jadi penerbit memang tidak tahu kondisi yang aktual terjadi di bidang tersebut.
Itu secara “ilmiah”-nya. Selebihnya, penerbit berdoa:…semoga cepat laku…hehehe
Salam,
Rochim Armando
Bangkit Publishing
http://bukabukumutu.blogspot.com
Rochim Armando
30 Oktober 2009 at 09:57