Cara Menyulap Cerita Biasa Menjadi Kisah Dramatis
Apa yang membuat cerita menjadi menarik? Apa yang memukau perhatian pembaca? Dramanya! Dramalah tongkat sihir yang dapat mengubah kejadian membosankan menjadi memikat. Dramalah yang membuat pembaca menjadi dahaga untuk mengharap dan mengharap lagi. Masalahnya, bagaimana cara “menyulap” cerita biasa (baik kisah nyata maupun cerita fiksi) menjadi kisah dramatis?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut ini hasil pembacaan M. Shodiq Mustika terhadap buku William Noble, Meramu Kisah Dramatis, terj. Sugeng Hariyanto dan Sukono (Bandung: MLC, 2006), Bab 1 dan 2, hlm. 17-45:
Intisari buku ini adalah bahwa kita dapat menyusun cerita yang dramatis apabila kita memahami efek dari apa yang kita tulis, yaitu reaksi pembaca.
Untuk itu, kita perlu:
- tonjolkan konflik
- kembangkan konflik
- tonjolkan keunikan
- lukiskan gambaran mendetail
- dekati pembaca
- manfaatkan gramatika
Tonjolkan Konflik
Cara terbaik untuk memikat perhatian pembaca adalah memberi mereka kesempatan untuk menyukai salah satu tokoh cerita, membiarkan pembaca memihak. Penonjolan konflik dalam kisah menciptakan peluang untuk memihak karena pasti ada dua pihak (atau bahkan lebih), dan pembaca yang berakal sehat dan berhati normal tentu akan “tergoda” untuk memihak.
Komentar M. Shodiq Mustika: Untuk kisah nyata romantis, sikap “membiarkan pembaca memihak” itu akan menciptakan drama yang lebih menarik bila penulis tidak langsung to the point menunjukkan mana yang baik dan mana yang buruk. Ini sebabnya, pada pengumuman Cari Naskah Muslim Romantis, saya cantumkan persyaratan: “tidak menjelek-jelekkan siapa pun”. Persyaratan ini bisa pula diartikan sebagai “tidak menjelek-jelekkan apa pun”. Untuk contoh, lihat satu paragraf dari Penulis Romantis (1): Persimpangan Jalan sebagai berikut:
Seandainya kupenuhi desakan keluarga istriku, yakni “bekerja lebih keras” dan tidak “memanjakan” istriku, maka di situ kulihat “jalan tahta”. Aku akan mendapat tempat terhormat di lingkunganku. Mungkin pula akan ada “bonus” berupa kaya harta. Namun, aku ragu-ragu apakah jalan ini akan membuatku berilmu.
Di situ, saya tidak menjelek-jelekkan “jalan tahta” dan “jalan harta” atau apa pun. Tidak pula saya jelek-jelekkan siapa pun.
Konflik dengan Siapa?
Jenis konflik: (1) konflik batin; (2) konflik dengan orang lain; (3) konflik dengan lingkungan alam.
Untuk penulisan kisah-kisah romantis, saya anjurkan Anda mengutamakan konflik batin. (Untuk keterangan mengenai pentingnya segi-segi batiniah diri, lihat Ciri Khas Sifat Romantis.) Anda bisa memanfaatkan konflik batin sebagai satu-satunya jenis konflik yang Anda tonjolkan dalam cerita romantis Anda. Namun, dapat pula Anda menonjolkannya bersama-sama dengan jenis konflik lainnya.
Kembangkan Konflik
Kisah dramatis memang bertumpu pada konflik, tetapi harus berkembang, bukan tetap konstan. Dosis konflik yang konstan membuat pembaca bosan. Dengan kata lain, kembangkan konflik.
Cara mengembangkan konflik: (1) berilah informasi yang belum lengkap pada tahap awal; (2) tambahkan ketidakpastian untuk pemecahan konflik; (3) giring pembaca menuju konflik yang paling memukau pada tahap akhir.
Untuk contoh pengembangan konflik batin, lihat tiga paragraf dari Penulis Romantis (1): Persimpangan Jalan sebagai berikut:
Apabila kupenuhi tuntutan familiku, yaitu menjauhi apa pun yang menghambat karirku, maka di pelupuk mataku terbayang kekayaan harta-benda yang jauh lebih banyak daripada yang pernah kumiliki. Setelah kaya-raya, barangkali juga bakal ada “bonus” berupa penghormatan dari orang-orang. Namun, aku tidak yakin pula apakah jalan ini akan membawaku ke gudang ilmu.
Padahal, sebagaimana Nabi Sulaiman a.s., aku memutuskan untuk memilih jalan ilmu. Ya, aku hendak menempuh jalan ini meskipun mungkin akan mengecewakan familiku dan keluarga istriku.
Masalahnya kini, manakah jalan ilmu untuk diriku? Karir selaku dosenkah?
Tonjolkan Keunikan
Untuk menarik perhatian pembaca, tampilkanlah hal-hal yang unik, tidak biasa, tidak terduga, lain dari yang lain. Ibaratnya, sekuntum bunga mawar merah di antara dedaunan hijau menjadikan bunga itu pusat perhatian.
Untuk contoh penonjolan keunikan, lihat dua kalimat dari Penulis Romantis (2): Jalan Sunyi sebagai berikut:
Ketika ribuan orang mendambakan profesi mapan selaku dosen-tetap universitas kenamaan, aku justru melepaskannya “hanya” untuk merintis karir menjadi penulis buku. Ketika milyaran orang berdesak-desakan di jalan tahta dan/atau jalan harta, aku malah meluncurkan diri di jalan ilmu nan sepi.
Tajamkan Kontras
Jenis penajaman kontras: (1) penokohan, seperti: muda-tua, pendiam-cerewet, pelit-dermawan, dll; (2) deskripsi latar, seperti: rumah mewah dengan halaman yang dipenuhi rumput liar, dua anak kucing berkejaran di tempat pemotongan hewan, dll; (3) antara alur dan nada cerita, seperti: bumbu humor pada cerita horor atau pun tragedi, dll.
Untuk contoh penajaman kontras, lihat dua paragraf dari Penulis Romantis (2): Jalan Sunyi sebagai berikut:
Sementara itu, meskipun tubuh kami berkeringat sehabis berjalan kaki sejauh lima atau enam kilometer, tak segelas pun air yang disuguhkan. Apalagi makanan pengganjal perut yang keroncongan. Karena itu, kami pun tahu diri. Berpamitanlah kami tanpa sempat mengutarakan maksud kedatangan kami.
Akhirnya, kami pulang dengan tangan hampa. Di perjalanan pulang, seorang anak kami yang masih balita bertanya kepada mamanya dengan nada sendu: “Ma, apakah tidak ada orang kaya yang suka memberi?” (Aku menahan napas.)
Pilih Kata-Kata Yang Mencipta Gambaran Yang Tajam
Contohnya, dari paragraf-paragraf penajaman kontras tadi:
- “tak segelas pun air yang disuguhkan” lebih dramatis daripada “tidak ada suguhan minuman”;
- “bertanya kepada mamanya dengan nada sendu” lebih dramatis daripada “bertanya kepada mamanya”.
Hindari Kata-Kata Klise
Contohnya, dari paragraf-paragraf penajaman kontras tadi dan dari paragraf penggambaran mendetail nanti:
- “tubuh kami berkeringat sehabis berjalan kaki sejauh lima atau enam kilometer” akan lebih dramatis bila direvisi menjadi “tubuh kami dibanjiri air keringat sehabis berjalan maraton sejauh tigabelas ribu langkah kaki”;
- “kami pulang dengan tangan hampa” akan lebih dramatis bila direvisi menjadi “dengan mulut yang masih menganga, kami berjalan maraton kembali”;
- “lulus dari SMA” akan lebih dramatis bila direvisi menjadi “menyabet ijazah SMA”;
- “nilaiku yang paling rendah” akan lebih dramatis bila direvisi menjadi “nilaiku yang paling hancur”.
Lukiskan Gambaran Mendetail
Dengan adanya gambaran mendetail yang lengkap dan gamblang, pembaca menjadi tahu lebih banyak. Tahu lebih banyak berarti merasakan dengan lebih mendalam. Merasakan dengan lebih mendalam berarti merasa lebih terlibat di dalam cerita.
Untuk contoh gambaran mendetail, lihat satu paragraf dari Penulis Romantis (2): Jalan Sunyi sebagai berikut:
Kerjaku yang sangat lambat dalam menerjemahkan teks Inggris itu pun sebenarnya sudah lumayan pula jika dibandingkan dengan tahun 1986. Pada tahun itu, aku lulus dari SMA Negeri 4 Surakarta, jurusan IPA. Di antara guru-guruku atau pun teman-temanku, mungkin tidak ada yang bermimpi bahwa aku akhirnya bisa mendapat uang dari menerjemahkan teks Inggris. Pasalnya, nilaiku yang paling rendah di SMA adalah pada pelajaran bahasa Inggris. (Pada mid-semester 5, aku mendapat nilai 5 yang ditulis dengan tinta merah.) Kalau pun mampu menerjemahkan teks Inggris, paling-paling hanya satu kalimat: I love you.
Dekati Pembaca
Kedekatan antara pembaca dan apa yang mereka baca menjadikan mereka dapat meraih dan menyentuh realitas. Kedekatan itu membawa pembaca berhadapan langsung dengan drama pada tingkat yang tinggi.
Kedekatan Waktu
Kita menyukai waktu saat ini karena pada saat inilah hidup kita berdenyut dan berjalan. Kita bisa menyaksikan peristiwa dengan lebih jelas apabila peristiwa itu terjadi pada waktu terkini. Sebabnya, kita sangat dekat dengan apa yang sedang terjadi.
Contoh kedekatan waktu, dari Penulis Romantis (1): Persimpangan Jalan: “Apakah sekarang aku sudah mampu membiayai ‘seseorang’ (umpamanya: istri kedua) untuk berkuliah setinggi-tingginya?”
Kedekatan Peristiwa
Demi kedekatan peristiwa, penulis perlu menceritakan kisah yang mencerminkan kejadian di sekitar pembaca, sesuatu yang dekat dengan pembaca. Bila kisah itu sedemikian dekatnya, maka pembaca merasa bahwa mereka merupakan bagian dari cerita itu dan bisa menimbang diri dengan latar yang sudah dikenalinya.
Untuk contoh kedekatan peristiwa, asumsikanlah bahwa pembaca adalah pemeluk agama Islam yang pernah bershalat berulang-kali dan pernah merasa tertekan (stressed). Lalu perhatikanlah satu paragraf dari Secercah Keindahan dari Sang Mahaindah:
Masalahnya, hatiku sedang porak-poranda. Tubuhku lemas. Loyo. Bagaimana mungkin aku bisa bershalat secara khusyuk, sedangkan bangkit dari ranjang pun terasa berat sekali?
Kedekatan Nama
Menyebutkan merek produk atau pun nama tempat dan nama orang/lembaga terkenal merupakan cara lain untuk menghadirkan kedekatan dalam cerita. Kita tidak perlu menyebut merek semua barang atau pun nama tempat dan nama orang/lembaga dalam cerita kita. Akan tetapi, penyebutannya yang wajar bisa lebih mendekatkan hal-hal itu kepada pembaca. Kita mengenal nama-nama itu, demikian juga pembaca. Dengan kesamaan ini, muncullah rasa dekat.
Contoh kedekatan barang, dari Penulis Romantis (2): Jalan Sunyi: “Aku teringat, Buya Hamka menghasilkan karya terbesarnya (Tafsir Al-Azhar) ketika sedang berada dalam keadaan paling terpuruk, yakni di penjara.”
Kedekatan Perasaan Tokoh
Rasa dekat itu akan kita dapatkan pula jika kita curahkan perhatian besar pada perasaan dan reaksi tokoh-tokoh yang kita hadirkan. Semakin mendalam kita gambarkan perasaan si tokoh, semakin mendalam pula keterlibatan pembaca dengan apa yang kita ceritakan.
Untuk mendalami perasaan si tokoh, tunjukkan mengapa perasaan itu hadir dan bagaimana perasaan itu memengaruhi tindakan berikutnya atau perasaan lainnya. Jadikanlah tokoh itu “hidup” di atas kertas. Jangan sekadar menulis: “Aku berurai air mata.” Tulislah gambaran perasaan yang mendalam seperti pada tiga paragraf dari Secercah Keindahan dari Sang Mahaindah:
Dalam keheningan, kukuras lubuk hati sedalam-dalamnya. Air mata membanjiri sajadah.
Pada mulanya, memang air mata duka yang aku kucurkan. Sementara pengurasan lubuk hati terus kuperdalam, jiwaku menjadi kering-kerontang. Tiada isinya selain penderitaan. Namun, ketika lubuk hatiku yang paling dalam sudah tersentuh oleh kesadaran-kesadaran baru, saat itulah air mata bahagia mulai berhamburan. (Kesadaran baru itu antara lain: “Jika aku bersabar menerima taqdir dan menyambut Hari Akhir, maka tentu Allah akan jadikan dia bidadariku kelak di surga, untuk selama-lamanya.”)
Puncaknya, dalam keheningan telaga air mata bahagia, tumbuhlah semangatku untuk bangkit dari sujud dan bangkit dari keterpurukan.
Tokoh adalah unsur terpenting dalam cerita dramatis. Semakin menarik kita menjadikannya, semakin mudah pembaca merasa menjadi bagian dari cerita itu.
Manfaatkan Gramatika
Kalimat aktif dengan kata kerjanya yang lugas bisa mengikat perhatian pembaca. Kalimat aktiflah yang kita perlukan agar cerita bergerak.
Contoh pemanfaatan kalimat aktif, dari Secercah Keindahan dari Sang Mahaindah:
Getaran itu mengalir terus dan semakin kencang. Air mata turun membasahi pipi. Pandangan mata menjadi buram dan semakin buram. Bila kubiarkan begini, bisa-bisa kesadaranku menghilang. Bila kubiarkan begitu, bisa-bisa bisikan dari jin kusangka ilham dari Tuhan. Sekarang, sudah saatnya aku bertekuk-lutut di hadapan Tuhan.
Selain dengan (1) kalimat aktif, kita dapat menggerakkan cerita dengan (2) kalimat yang pendek-pendek dan mengalir cepat, (3) paragraf yang ringkas, dan (4) peralihan yang tajam.
Contoh pemanfaatan kalimat yang pendek-pendek dan paragraf yang ringkas, dari Secercah Keindahan dari Sang Mahaindah:
Dengan bertekuk-lutut, aku bersujud. Kembali aku serahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kali ini lebih total.
Kalimat pasif (dan kalimat panjang) diperlukan pula, tetapi kegunaannya terbatas. Kita sesekali membutuhkan kalimat pasif (dan kalimat panjang) untuk variasi supaya kalimat-kalimat kita tidak membosankan dan untuk mengurangi ketegangan yang berlebihan supaya pembaca tidak kelelahan.
Demikianlah cara-cara “menyulap” cerita biasa menjadi kisah dramatis. Selamat menulis.***

trimakasih atas bagi2 ilmu menulisnya
anasayahara
28 Januari 2008 at 14:50
pak, makasih ya… aku perlu banget nih… aku copy juga boleh kan??? makasih lagi…
jengdyanee
29 Januari 2008 at 10:23
Di dalam kepala ini memang banyak cerita yang selalu bergema, tetapi tangan ini rasanya tidak bisa diajak untuk menuangkannya ke tulisan.
Semoga saya bisa banyak belajar dari sini.
Thanks
Hedwig™
8 Februari 2008 at 13:20
Bagus Banget tulisannnya.
Saya ijin ya pak…untuk mengcopynya?
Terimakasih sebelumnya…
Semoga barokah ilmunya
The best regard
Rokhmat Farid
12 Juni 2008 at 15:12
[...] Oh ya, untuk artikel terkait, lihat Cara Menyulap Cerita Biasa Menjadi Kisah Dramatis. [...]
Kunci Sukses 4: Kesan Pembaca « Dunia Penulis
6 Agustus 2008 at 20:46
Masya Allah, tips-tips yang sangat menarik…
Jazakallaahu khairan…
Baswedan
29 April 2009 at 20:59
Kiat ini begitu bermanfaat bagi saya, yang sedang berusaha untuk belajar menulis fiksi. Terima kasih.
adjisetyawan
12 Mei 2009 at 18:23