Merombak kerangka karangan

2008 Januari 21
by M Shodiq Mustika

Kemarin lusa, saya beremail-ria dengan Mas Edy dari Penerbit Diva Press, Jogjakarta. Baru saja dia menyatakan ketertarikan untuk menerbitkan naskah yang judulnya, atau lebih tepatnya temanya, adalah “Ayo Ubah Takdir (mengapa dan bagaimana beralih dari takdir buruk ke takdir baik)”.

Mas Edy meminta saya mengajukan Pendahuluan (Kata Pengantar) dan Daftar Isi untuk didiskusikan melalui email. Karena saya belum siap, saya minta waktu beberapa hari untuk menyusunnya (bersama Pak Eby). Yang bisa saya kemukakan saat itu hanyalah garis besar isi buku kami nantinya. Unsur-unsurnya mencakup:

  • makna “takdir” dan “mengubah takdir”;
  • perlunya “mengubah takdir”;
  • cara mengubah takdir usia;
  • cara mengubah takdir rezeki;
  • cara mengubah takdir jodoh.
  • Itulah kerangka-awal untuk naskah buku yang sedang kami susun, “Ayo Ubah Takdir”.

    Sudah menjadi kebiasaan saya untuk tidak terlalu kaku dalam berpegang pada kerangka karangan. Saya siap memperbaruinya, bahkan merombaknya, sewaktu-waktu. Apalagi, saya menyusunnya tidak sendirian, tetapi bersama seorang penulis lain (yaitu Pak Eby). Kalau pembaruan, bahkan perombakan, menjadikan naskah kita lebih berkualitas, saya tidak punya alasan untuk menolaknya.

    Hari ini, saya membaca buku Hernowo, Vitamin T: Bagaimana Mengubah Diri lewat Membaca dan Menulis (Bandung: MLC, 2004). Sebetulnya, sekiranya saya lebih cermat membaca, dapat saya tangkap dengan cepat bahwa sub-judulnya (“Bagaimana Mengubah Diri ….”) itu sudah menunjukkan relevansinya dengan naskah buku yang sedang saya kerjakan, “Ayo Ubah Takdir”. Namun, saya baru menyadarinya ketika membaca kalimat-kalimat Pak Hernowo di hlm. 118-119:

    Kualitas kehidupan Anda akan semakin membaik jika dituliskan. Sebab, lewat proses penulisan kehidupan Anda, Anda akan mampu melihat secara gamblang proses kehidupan yang Anda jalani. Apakah tulisan Anda merekam kehidupan Anda yang membosankan, atau yang itu-itu saja, atau[kah] ada kehidupan yang membanggakan Anda?

    Apa pun hasil tulisan Anda, jika Anda berhasil “menuliskan kehidupan” Anda, Anda memiliki peluang mengubahnya secara cepat dan drastis. Anda dapat mengendalikan dan mengarahkan kehidupan Anda dengan bantuan tulisan [Anda tentang] kehidupan Anda. Andalah tuan dari “takdir” Anda yang akan Anda jalani.

    Kata “takdir” pada kalimat terakhir itu langsung membangkitkan kesadaran saya: “Lho? Ini ‘kan relevan dengan naskah yang sedang kukerjakan (bersama Pak Eby)! Alhamdulillaah…”

    Sadarlah saya bahwa kerangka-awal karangan saya itu masih terlalu analitis. Pada bagian “bagaimana mengubah takdir”, kerangka-awal saya itu baru sebatas bagian per bagian (yaitu tiga bagian: usia, rezeki, jodoh). Unsur sintesisnya belum tercakup.

    Bayangkan! Di manakah saya dapat memasukkan gagasan “mengubah diri lewat membaca dan menulis” pada kerangka yang terlampau analitis itu. Mau dimasukkan ke bagian usia kurang pas, ke bagian rezeki kurang tepat, ke bagian jodoh apalagi! Jadi, saya membutuhkan unsur baru pada kerangka karangan itu, yakni yang sintesis, yaitu yang menggabungkan bagian-bagian dari takdir tersebut.

    Karena itu, kalau Pak Eby setuju, kerangka itu kita tambahi unsur:

  • cara mengubah takdir diri.
  • Hello, Pak Eby! Bagaimana? Setuju? Ada tambahan (atau bahkan perombakan) lain?

    3 Tanggapan leave one →
    1. 2008 Januari 22

      Saya setuju aja pak .. untuk menambah unsur2 lainnya. Karena itu akan lebih memperkaya materi tulisan dan tidak terjebak dengan ‘terlalu analitis’ .. karena untuk mengubah takdir, dari banyak jalan salah satunya memang dari membaca dan menulis.

      Sharing pengalaman, curhat atau menyaksikan dengan mata kepala sendiri peristiwa yang dahsyat .. juga dapat menuju perubahan yang kita harapkan. Karena takdir itu sendiri sudah ‘tercetak’ buat masing2 manusia, baik takdir baik maupun buruk.

      Karena manusia mempunyai kehendak bebas, maka pilihan ada pada manusia itu sendiri. Jadi sebenarnya bukan mengubah takdir tapi memilih takdir dan seperti yang pernah saya tulis di blog saya .. bahasa memilih takdir itu menjadi KU JEMPUT TAKDIR KU .. artinya kita tidak mengubah tapi memilih.

      Makanya .. ketika pak Shodiq menawarkan saya ikut nulis AYO UBAH TAKDIR, saya masih bingung. Karena takdir itu tidak bisa diubah .. itu menurut pemahaman saya. Karena takdir sudah diprogram oleh Sang Pencipta Manusia.

      Kita hanya perlu memilih takdir. Seperti software, apakah kita mau menggunakan Word Processor atau Excel .. sama2 bisa buat nulis tapi fungsi nya beda2. Gitu deh. Jadi koq, saya lebih sreg memilih dengan memilih takdir atau menjemput takdir.

      Kira2 gitu pak .. mohon maaf, kalo cara berpikir saya aneh dan keliru. Karena sudah ada buku tentang MENGUBAH TAKDIR .. dan saya takut kualat pak kalau saya mengubah MADE IN ALLAH. Yang bisa saya lakukan hanya memilih. Karena manusia memang diciptakan memiliki kehendak bebas untuk memilih.

    Lacak Balik & Ping Balik

    1. Blogirang berfulang .. « KU LETAK KAN KATA DISINI
    2. Sebaiknya Mengubah ataukah Memilih Takdir? « Manajemen Amal

    Tinggalkan Balasan

    Note: Anda dapat menggunakan XHTML dasar di komentar Anda. Alamat surel Anda tidak akan pernah dipublikasikan.

    Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS