Kursus gratis menulis buku (bahkan dibayar)
Saat browsing barusan, aku tercengang menatap angka-angka itu: “Ratusan ribu rupiah untuk mengikuti kursus menulis buku secara online? Jutaan rupiah untuk versi privatnya?” Demikian pikirku terheran-heran.
Yang lebih membuatku terheran-heran, kursus atau seminar atau pelatihan atau sekolah menulis seperti itu akhir-akhir ini ternyata laku! Rupanya, begitu besar hasrat orang untuk mampu menulis, sampai rela membayar mahal (untuk ukuranku).
Aku jadi teringat pada perjalanan karirku selaku penulis buku. Aku bersyukur, alhamdulillah, aku tidak harus membayar sepeser pun untuk belajar menulis buku. Bahkan, sejak aku mulai belajar menulis buku, aku dibayar!
Beasiswa? Tidak! Aku tidak menjadi siswa yang di-bea-i (baca: dibiayai) untuk belajar. (Untuk belajar, kita tidak harus menjadi siswa, bukan?)
Pada sekitar 15 tahun yang lalu, aku mulai belajar menulis buku dengan menerjemahkan beberapa halaman buku teks Inggris ke dalam bahasan Indonesia. Bayarannya aku peroleh dari orang-orang, kebanyakan mahasiswa, yang memberikan order penerjemahan itu. (Order itu aku peroleh dengan membuka kios “Terima Terjemah Inggris-Indonesia” di pinggir sebuah jalan raya di kawasan utara Jogja, dekat dengan kampus-kampus perguruan tinggi terkemuka.)
Jangan dikira aku sudah mahir menerjemahkan saat itu. Pada mulanya, terhadap hampir setiap kata yang kuterjemahkan, aku harus membuka kamus. Aku membutuhkan waktu berjam-jam untuk menerjemahkan satu halaman saja. Setelah ratusan kali menerjemahkan, barulah aku mulai lancar menerjemahkan dengan hanya sesekali menengok kamus. Jadi, aku benar-benar belajar menulis; dan untuk belajar menulis itu aku dibayar, bukan membayar!
Pengalaman menerjemahkan teks-teks Inggris itulah yang mungkin paling membentuk kemampuanku untuk menulis buku. Sebab, bagiku, menulis buku itu mirip dengan menerjemahkan teks. Bedanya hanyalah bahwa yang aku “terjemahkan” kini tidak lagi teks-teks Inggris, tetapi segala teks, bahkan juga fenomena dan pengalaman.
Bagaimana dengan dirimu? Seperti diriku, engkau juga bisa memperoleh bayaran untuk belajar menulis buku. Tentu saja, caranya tidak harus dimulai dengan menerjemahkan teks. Ada cara lain yang lebih praktis yang kutawarkan kepada dirimu, yaitu langsung praktek menulis buku bersama denganku. (Lihat http://duniapenulis.wordpress.com/peluang/.)
Untuk itu, engkau tidak kuminta membayarku sepeser pun. Kelak, pembeli buku kitalah, melalui penerbit, yang akan membayar kita. Asyik, nggak?

Hehehe , Jogja sebalah mana bang dulu, Sinyo pernah kuliah di sana
. Dulu saya waktu masih kuliah juga menterjemahkan Bhs Linggis dan Panci …yah bisa dikit-dikit doank bantu temen
Salam Sukses
Agung Sugiarto (Sinyo)
sinyoegie
21 Januari 2008 at 09:10
I want to joint with this event….Can u give ways??
Lyana Kurnia
21 Januari 2008 at 12:26
mau dong klo gratis…………..caranya gimana seh
Lyana Kurnia
21 Januari 2008 at 12:27
lain bolu lain cakalang
lain dulu lain sekarang
daeng limpo
21 Januari 2008 at 13:36
saya beberapa kali ikut pelatihan kepenulisan.. tapi koq nggak bisa menghasilkan buku sama sekali yang
hmcahyo
21 Januari 2008 at 16:33
informasi yang bagus
siheruw
21 Januari 2008 at 17:59
Menarik, Pak. Namun tampaknya usaha-usaha untuk memberikan kesempatan bagi banyak orang agar dapat menulis perlu pula didukung keberadaannya…
Salam,
-DM-
DM
21 Januari 2008 at 18:41
wah emang ya belajar itu jauh lbih terasa kalo terdorong oleh rasa memiliki (gaji)
rwinciyin
21 Januari 2008 at 21:07
menulis adalah sesuatu yang ingin kuluruskan, sejak dulu tulisanku tidak pernah lurus-lurus, mungkin ada panduan bagaimana cara menulis lurus ? jauh dari bayaran (belum?) hanya tertarik cara menulis, kada urusan tidak percaya diri akan hasil tulisan yang 99% menjegal untuk menulis kembali, benar atau tidak ? ujung-ujungnya tulisanku seperti “copas” dari tulisan yang sudah ditulisi ?! *copas = copy paste
^joels
21 Januari 2008 at 22:43
Menulis adalah suatu hal yang sangat sulit bagi ku karena aku kurang yakin dengan apa yg aku tulis salut dech bagi yg yakin dengan tulisannya bagi ku itu sangat berarti. salam sukses!
kavung
21 Januari 2008 at 23:43
salut buat yang mau maju, terus terang saya belum bisa berbuat banyak, apa lagi tulis-menulis sangat kesusahan. makasih infonya. kayaknya saya pernah liat di kebumen waktu acara bedah buku.
kharisfajar
22 Januari 2008 at 05:13
pengalaman yang hebat
semoga semangat dan energinya menjadi penyemangat kita-kita yang ingin menjadi penulis seperti Bapak
senang bisa nyampe ke blog ini
wishbeukhti
22 Januari 2008 at 10:06
boleh juga
xnets
22 Januari 2008 at 11:24
Ya, seperti begitulah yang terjadi.
atapsenja
22 Januari 2008 at 13:48
iT”s GooD
friendku
22 Januari 2008 at 15:03
pengennya sih jadi penulis, tapi herannya tiap kali nulis psti nggak pernah selesai. idenya suka lompat-lompat. susahnya. jadi pengen blajar nih. daftar boleh gak ya
nina
22 Januari 2008 at 16:23
menjadi penulis = menarik
gratis = menarik
dibayar = sangat menarik
siapa tak mau?
kutubuku
22 Januari 2008 at 17:14
gw si suka ama gambar pengsil yang di atas itu. smart choice, man!
xatryajedi
22 Januari 2008 at 18:24
wah pak kok pengalamannya mirip banget sama saya ya… he hehehe…
maksudnya saya dulu ketika kuliah juga menjadi penerjemah freelance… betulll lumayan juga incomenya untuk mahasiswa level kos-kosan seperti saya…
o ya pak sudah berkunjung ke wordpress saya beluuummmm??? ditunggu ya…
Jengdyanee
23 Januari 2008 at 14:24
gratis…. ? mau dong, gimna caranya ?
iffah
27 Januari 2008 at 11:22
@ Lyana & iffah
Caranya sudah kami ungkapkan di artikel di atas.
M Shodiq Mustika
2 Februari 2008 at 18:44
wah…kursus nulis and dibayar…?gimana caranya mau tau domg…?
purnama_lestari
14 Februari 2008 at 13:05
Belajar menulis… ah saya juga ingin. Jadi ingat, begitu banyak juga sebenarnya buku yang mengajarkan menulis. Ingat-ingat saya, buku tentang menulis dari Arswendo A, Slamet Suseno, dan banyak lagi.
Kalau saya menulis… ya menulis saja. Tidak dimanajemeni, padahal manajemen menulis itu juga bagian yang mustinya dipelajari dengan baik.
Mulai dari menulis satu kalimat, paragrah, tema, topik, sampai menulis komprehensif.
Setelah buku Mas Shodiq masuk ke Malaysia… –> ceritakan dong, bagaimana bisa masuk ke Penerbit Malaysia, melalui jalur mana, bagaimana perjanjiannya. Bagaimana distribusinya, bagaimana pula mendistribusikan buku Indonesia ke Brunei, Malaysia, Singapura…
Juga bagaimana peluang untuk go internasional.
Kalau tak salah nih… ikapi 2007 sudah mulai berusaha menjual hak cipta di Buch Messe – (Frankurt Book Fair) Pameran akbar buku terbesar di dunia yang digelar tiap bulan Oktober. Jadi bukan hanya sekedar pameran belaka….
agorsiloku
23 Februari 2008 at 01:27
setuju banget, kalo belajar bareng bareng pasti seru. ikutan ya
yusuf
28 September 2008 at 15:49
saya ingin sekali…, karena saya ingin menjadi penulis sebagai profesi, dan bukan sekedar hobi.
saya ingin belajar menjadi penulis secara gratis. karena jika kursus menulis harus pake uang, saya nggak sanggup.
terima kasih yaa mau kasih kesempatan
fahdi
12 Oktober 2008 at 16:26
Sangat menarik. Ikutan ya pak,
Dens
6 April 2009 at 17:35
wah kok bisa yaaaa hari gini gratisan, gmn caranya?
wie
27 Juni 2009 at 21:18
aku punya beberapa paragraf, dikit sich. bisa bantu ga? biar keliatan bagus(isinya) n bisa jadi duit ga. tapi, aku ga punya web!
tolong kasih tau caranya donk…
makasih.
ahmad junaedi
21 September 2009 at 13:02
Wah, pengalaman yang menarik, jadi semangat mau nulis nih. Tapi harus banyak baca dulu ya?
Yoga
28 Oktober 2009 at 12:13